News Uncategorized

Menlu Retno Bertemu Menlu John Kerry Bahas Kedatangan Presiden Jokowi ke AS

Washington DC – Presiden Jokowi direncanakan akan berkunjung ke Amerika Serikat (AS) pada tanggal 25-28 Oktober 2015 setelah sebelumnya mendapat undangan dari Presiden Barack Obama. Kunjungan itu akan bertepatan dengan peringatan 5 tahun Kemitraan Komprehensif Indonesia – AS yang ditandatangani tahun 2010.

Pengumuman rencana kunjungan dilakukan secara bersama oleh Menteri Luar Negeri kedua negara, Menlu Retno LP Marsudi dan Menlu John Kerry, bertempat di Kantor Kementerian Luar Negeri AS, Washington DC, Senin (21/9/2015).

“Seperti kita tahu, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga dunia, dan banyak isu-isu penting yang menjadi perhatian bersama. Kita bekerja sama sangat erat di berbagai isu. Dan Indonesia memainkan peran penting di ASEAN, di Laut China Selatan, isu perubahan iklim, dan isu yang lain. Dan karena pentingnya hubungan ini, dengan senang hati saya umumkan bahwa pada tanggal 26 Oktober Presiden Jokowi akan datang ke Washington DC untuk bertemu dengan Presiden Obama, di mana kita bisa mengembangkan lebih jauh hubungan dagang kedua negara serta hal-hal lain yang kita kerjakan bersama,” kata Menlu Kerry.

Dia menambahkan, Presiden Obama dan Presiden Jokowi memiliki banyak kesamaan dalam hal pendekatan menyelesaikan persoalan. “Mereka berdua sama-sama tipe pekerja (doer) dan percaya pada reformasi birokrasi, reformasi peraturan, mendorong proses, dan mengurai birokrasi,” kata Menlu Kerry.

Sementara itu, Menlu Retno mengatakan bahwa kunjungan Presiden Jokowi bertepatan dengan peringatan 5 tahun Kemitraan Komprehensif antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani tahun 2010.

“Saya beruntung saya menjadi bagian dari proses pembentukan Komprehensif Partnership di tahun 2010. Dan pagi ini saya diskusi dengan Menlu Kerry tentang bagaimana kita meningkatkan hubungan bilateral kedua negara di masa depan. Dalam konteks itu, kami siap untuk mendikusikan tentang persiapan kunjungan Presiden Jokowi ke Washington DC tanggal 26 Oktober. Ini adalah waktu terbaik bagi Indonesia dan AS untuk duduk bersama dan mendikusikan hubungan kedua negara di masa depan,” ujar Menlu Retno.

Dia menambahkan, Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN dan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia akan berkontribusi secara positif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia. Indonesia dan AS merupakan mitra dagang dan investasi yang amat penting, dan kerja sama ekonomi akan menjadi topik penting yang mereka bicarakan.

Kunjungan Presiden Jokowi akan mencakup pertemuan bilateral dengan Presiden Obama di Gedung Putih pada tanggal 26 Oktober, dilanjutkan dengan pertemuan bersama pejabat-pejabat tinggi AS dan Kongres serta pemimpin bisnis di Washington, DC pada tanggal 26-27 Oktober. Pada hari berikutnya, Presiden Jokowi akan mengunjungi San Francisco untuk bertemu dengan kelompok bisnis dan pimpinan universitas.

Kunjungan ini diharapkan akan memperkuat Kemitraan Komprehensif Indonesia-AS yang telah ditandatangani pada tahun 2010 saat Presiden Obama berkunjung ke Indonesia tanggal 9-10 November. Dalam kunjungannya saat itu, Presiden Obama antara lain mengunjungi Masjid Istiqlal, di mana dia berbicara tentang semangat toleransi beragama yang diabadikan dalam Konstitusi Indonesia.

Kunjungan Presiden Jokowi ke AS akan bertepatan dengan peringatan 1 tahun masa pemerintahannya dan peringatan 5 tahun kunjungan Presiden Obama ke Indonesia.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan AS dimulai pada bulan Desember 1949 setelah diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB) dan penyerahan kedaulatan secara resmi oleh Belanda. Kedutaan AS di Jakarta dibuka tanggal 28 Desember 1949, sementara KBRI Washington DC dibuka tanggal 20 Februari 1950. Presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS pada tanggal 16-18 Mei 1956, sementara kunjungan pertama oleh Presiden AS ke Indonesia dilakukan oleh Presiden Richard M. Nixon pada tanggal 27-28 Juli 1969.

32f8f0f5-9112-424b-92ca-2bf62a7158c4_169

 

Source: detikNews