News Uncategorized

Menlu Retno Pertegas Komitmen Partisipasi Aktif RI di Dunia Internasional

Washington DC – Di bawah Pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia dipersepsikan oleh sebagian pihak sebagai negara yang menarik diri dari pergaulan internasional dan mengadopsi nasionalisme sempit. Namun Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi menegaskan bahwa pandangan semacam itu tidak betul.

“Dikatakan bahwa Indonesia sekarang menjadi inward looking dengan mengadopsi nasionalisme sempit dan menarik diri dari pergaulan internasional. Saya tegaskan bahwa pendapat itu keliru. Indonesia tetap berkomitmen untuk proaktif dalam menangani isu-isu bilateral, regional, dan global,” kata Menlu Retno.

Hal itu dia sampaikan dalam pidato di gala dinner yang diadakan  oleh United States-Indonesia Society (USINDO) dan dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan di Washington DC, AS, Senin (21/9/2015).

Sebagai bukti, tambah Menlu, selama menjabat Presiden Jokowi telah melangsungkan tak kurang dari 27 pertemuan bilateral dan menghadiri 5 pertemuan puncak (summit) serta selusin kunjungan bilateral. Menlu sendiri telah melangsungkan tak kurang dari 53 pertemuan bilateral dan mengunjungi 20 negara, termasuk AS. Belum lagi, pada April lalu Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika yang berperan menjembatani dua benua.

“Kita juga menawarkan tempat tinggal bagi ribuan imigran yang terlantar di laut. Kita mengirimkan bantuan ke kawasan yang tertimpa bencana seperti di Nepal dan Vanuatu. Kita meningkatkan keterlibatan di Pasifik dengan menjadi associate member dari Melanesian Sperhead Group. Dan kita menyuarakan Islam yang damai, ramah, dan rahmatan lil’alamin dalam memerangi ekstremisme dan intoleransi,” papar Menlu.

Demikian juga dalam hal kebijakan luar negeri. Menurut Menlu, saat ini prioritas kebijakan luar negeri Indonesia mencakup empat hal, yaitu: menguatkan perlindungan terhadap kedaulatan nasional dan integritas wilayah, menguatkan perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri, menguatkan diplomasi ekonomi, dan meningkatkan keterlibatan Indonesia di level regional dan global.

Sekilas, kebijakan tersebut terlihat mementingkan diri sendiri. Padahal sejatinya tidak demikian. Kebijakan-kebijakan itu justru berkontribusi untuk mengurangi kesaling-tidak-percayaan di antara negara-negara di kawasan dan di luar kawasan.

“Misalnya kebijakan perlindungan terhadap kedaulatan nasional dan integrasi teritorial. Isu perbatasan sedikit saja bisa mengganggu hubungan dengan negara tetangga dan dapat memicu konflik. Karena alasan itulah Indonesia melakukan negosiasi perbatasan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Timor Leste, dan Palu,” terang Menlu.

Misal lain adalah perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Menurut Menlu, meski berkontribusi terhadap produktivitas ekonomi dan pertumbuhan negara penerima, pekerja migran Indonesia belum menerima perlindungan yang semestinya. Memastikan perlindungan pekerja migran berarti membangun hubungan baik dengan negara penerima.

“Dengan lebih dari 2,7 juga pekerja migran Indonesia di seluruh dunia, menjadi prioritas kami untuk melindungi mereka. Kami mengintensifkan negosiasi dengan negara-negara mitra dari Timur Tengah guna memastikan perlindungan yang lebih baik bagi mereka. Di level regional, kami juga mendorong mekanisme di ASEAN untuk menyediakan perlindungan yang lebih baik bagi seluruh pekerja migran,” tegas Menlu.

Source: detikNews