News Uncategorized

Kiprah Tricia Populerkan Angklung ke Sekolah-sekolah di Amerika

Washington DC – Ketika menginjakkan kaki di Amerika Serikat tahun 2007, Tricia Sumarijanto tidak pernah berniat serius berkecimpung di dunia musik, terlebih musik tradisional. Tujuannya adalah melanjutkan studi S2 di George Washington University, sebuah kampus ternama di Washington DC yang kerap jadi rujukan bagi banyak mahasiswa Indonesia.

Namun apa mau dikata, roda nasib menyeretnya ke lintasan yang tidak dia sangka-sangka. Setelah menggondol master di bidang Organizational Science, perempuan kelahiran Jakarta, 29 Desember 1970, itu justru menekuni musik tradisional dengan mengajarkan angklung ke murid-murid sekolah di Amerika.

“Terakhir kali saya main angklung adalah waktu masih SD. Sejak itu saya tidak pernah main lagi, sampai akhirnya saya kembali main setelah di Washington DC,” tutur Tricia dalam perbincangan santai dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Dok Pribadi

Angklung Goes to School (AGTS), demikian program pengajaran angklung ke anak-anak sekolah di Amerika itu disebut. Penggagasnya adalah Tricia yang juga merupakan pengajar sekaligus konduktor tunggal di House of Angklung (HoA). Ketua HoA Erwin Chaniago mengatakan, AGTS merupakan salah satu program utama HoA selain pementasan.

“AGTS diinisiasi oleh Tricia. Dengan progam itu kita ingin mengenalkan angklung ke murid-murid sekolah di Amerika.  Selain itu kita juga ingin mengenalkan Indonesia, bahwa Indonesia tidak hanya Bali,” kata Erwin.

HoA sendiri mulanya merupakan perkumpulan warga sunda di Washington DC bernama Angklung Rukun Wargi Pasundan. Tahun 2009, sesaat sebelum perubahan nama menjadi HoA dan bertepatan dengan Tricia merampungkan studinya, komunitas angklung tersebut tengah mencari pengajar baru.

Dok Pribadi

“Waktu itu mereka meminta saya menjadi pengajar, dan saya sangat tertarik untuk bergabung. Saya pelajari lagi cara bermain angklung yang sudah lama sekali saya tinggalkan. Akhirnya sejak itu saya menjadi pengajar dan tampil di berbagai festival budaya di Washington DC,” tutur Tricia.

Jika dirunut, AGTS bermula dari perhelatan akbar yang diselenggarkan KBRI Washington DC pada tahun 2011, di mana Tricia turut berperan serta mulai dari persiapan hingga penyelenggaraan. Bertempat di National Monument, acara itu diikuti oleh 5.000 peserta dan dicatat oleh Guinness Book of World Record sebagai permainan angklung dengan peserta terbanyak. Rekor itu belakangan dipecahkan di Beijing tahun 2013 dengan 5.400 peserta, lalu di Adelaide tahun 2014 dengan 6.300 peserta, dan terakhir di Bandung pada April 2015 dengan 20 ribu peserta.

“AGTS merupakan kelanjutan dari pemecahan rekor tersebut. Dari percakapan dengan Daeng Udjo, saya berpikir sayang sekali kalau event yang begitu besar terlewat begitu saja. Maka saya menginisiasi AGTS untuk mengenalkan angklung ke murid-murid sekolah di Amerika. Jika pemecahan rekor adalah acara sesaat, AGTS ini merupakan program berkelanjutan,” kata Tricia.

Dok Pribadi

Dengan dukungan dari KBRI Washington DC, dia mulai menginisiasi AGTS di tahun 2011. Langkah pertama adalah dengan mengajukan proposal ke Montgomery County Public Schools (MCPS), salah satu county dengan sistem pendidikan terbaik di Amerika. Dia harus meyakinkan mereka bahwa apa yang akan dia ajarkan dapat memberi manfaat buat para siswa. Dia juga harus bersaing dengan program-program lain yang ingin masuk ke sekolah.

“Saya mengikuti audisi agar AGTS bisa masuk ke dalam sistem pendidikan MCPS sebagai kegiatan alternatif dan penunjang program sekolah. Melalui audisi di depan delapan superintendant, akhirnya sejak 2012 AGTS disetujui sebagai salah satu program kesenian,” kata alumni FISIP UI ini.

Metode yang Tricia pakai untuk mengajar adalah dengan kode tangan atau dikenal dengan sebutan Curwen hand sign. Setiap gerakan tangan tertentu mewakili tangga nada tertentu. Misalnya, jari tergenggam melambangkan do, telapak tangan miring ke atas re, telapak tangan lurus horizontal mi, dan seterusnya.

Selain itu, Tricia juga menamai angklungnya dengan nama-nama pulau di Indonesia: Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua. Dengan cara itu, dia sekaligus mengenalkan geografi Indonesia kepada murid-murid di Amerika.

Dok Pribadi

“Metode ini saya adopsi dari Saung Udjo. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya belajar bermain angklung, tapi juga dikenalkan dengan pulau-pulau di Indonesia beserta flora dan faunanya. Ini membuat belajar angklung jadi menyenangkan buat mereka,” kata Tricia.

Selain pulau, anak-anak juga dikenalkan dengan lagu-lagu nusantara seperti Burung Kakatua, Bengawan Solo, Satu Satu Aku Sayang Ibu, dan Tokecang. Guna memantik ketertarikan mereka, Tricia juga menggunakan lagu-lagu Barat yang sudah familiar, semisal Twinkle Little Star, lagu kebangsaan Amerika Star Spangled Banner, hingga lagu super ngehits Let It Go dari film fenomenal Frozen yang digandrungi gadis-gadis cilik.

“Angklung adalah alat musik sederhana yang punya potensi luar biasa untuk merekatkan hubungan antar-bangsa melalui people-to-people contact. Orang tidak harus pandai bermain musik untuk bisa memainkan angklung, dan itu memberi mereka pengalaman langsung bermain musik sehingga Indonesia terasa lebih dekat di hati dan pikiran mereka,” ucap Tricia.

Sejak dimulai hampir empat tahun lalu, AGTS telah menjangkau lebih dari 1000 murid di lebih dari 30 sekolah, mulai dari SD hingga SMA. Salah satu di antaranya adalah School Without Walls yang merupakan SMA terbaik di Washington DC. Sebagian dari sekolah itu sangat antusias dan menjadikan AGTS sebagai program berkelanjutan. Mereka juga mementaskan angklung di acara-acara tertentu, seperti upacara kelulusan dan International Night.

Dok Pribadi

Reid Temple Christian Academy, misalnya, menjadikan AGTS sebagai program rutin sekolah sejak 2012. Kepala sekolahnya, Donna Edwards, mengatakan bahwa program tersebut  amat bermanfaat untuk mengenalkan murid-murid dengan kebudayaan lain.

“Kami diajarkan oleh agama untuk hidup dalam harmoni, dan belajar angklung merupakan anugerah karena membuat kami hidup dalam harmoni dengan tetangga Indonesia kami. Murid-murid kami menikmati belajar angklung, dan mereka selalu semangat tiap kali Tricia datang. Mereka tidak saja ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia, tetapi juga ingin berkunjung ke sana,” kata Donna.

Tidak hanya dari pihak sekolah, apresiasi juga datang dari sang maestro angklung asal Bandung, Sam Udjo. Kakak dari Daeng Udjo itu mengungkapkan rasa salutnya atas upaya yang dilakukan Tricia bersama HoA dalam mengenalkan angklung di Amerika.

Menurut Sam Udjo, di seluruh dunia tidak ada kelompok angklung sejenis yang lebih solid dan lebih berkembang ketimbang HoA. Pengenalan angklung ke sekolah-sekolah di AS lewat AGTS dia nilai sebagai terobosan yang patut dicatat karena belum pernah ada sebelumnya.

“Ini adalah terobosan yang luar biasa. Anak usia sekolah sedang dalam masa keemasan, dan mereka akan mengingat angklung hingga mereka dewasa kelak. Ini tentunya cara promosi kebudayaan Indonesia yang amat efektif,” kata Sam Udjo.

Dok Pribadi

Andil angklung dalam promosi Indonesia inilah yang membuat KBRI Washington DC mendukung penuh upaya yang dilakukan HoA. Dewi Justicia Meidiwaty dari Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Washington DC mengatakan bahwa pengenalan seni dan budaya Indonesia di publik Amerika merupakan salah satu agenda penting KBRI dalam rangka mempromosikan Indonesia.

Menurut perempuan yang akrab disapa Meidy ini, angklung adalah salah satu piranti diplomasi budaya yang efektif. Karena itulah pengenalan angklung dimasukkan ke dalam Embassy Adoption Program (EAP), sebuah program tahunan binaan KBRI Washington DC untuk sekolah-sekolah SD di AS.

“Kita sadar bahwa Indonesia yang sedemikian luas dan beragam tidak bisa diwakili oleh hanya satu atau dua kesenian. Untuk saat ini, angklung adalah salah satu yang punya potensi besar untuk  berkembang luas di luar negeri. Program EAP merupakan salah satu platform penting untuk memperkenalkan angklung sebagai wakil seni budaya Indonesia yang unik dan berkelanjutan kepada anak-anak SD di Washington DC dan sekitarnya,” kata Meidy.

Dok Pribadi

Bagi Tricia dan kawan-kawannya di HoA, pengenalan angklung tidak boleh hanya berhenti di Washington DC dan sekitarnya. Mereka berangan-angan angklung dapat dikenal luas di seluruh pelosok Amerika. Karena itu, HoA telah merancang program untuk beberapa tahun ke depan guna mengenalkan angklung ke berbagai wilayah lain.

“Saya membayangkan AGTS ini akan menjadi brand yang dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia di Amerika,” tandas ibunda dari Anastasia Vania Putri ini.

Source: detikNews