Press Releases & Statements Uncategorized

Indonesia Berpartisipasi pada Pacific Land Forces Symposium di Hawaii, AS

Pada tanggal 24-26 Mei 2016, Atase Pertahanan KBRI Washington D.C. telah mengikuti kegiatan Pacific Land Forces Symposium di Hawaii, AS. Kegiatan tahun ini mengambil tema Assuring Stability and Security-Strengthening Land Forces Team, dengan pelaksanaan beberapa panel diskusi yang terkait satu sama lainnya.

Diskusi panel pertama berupa diskusi untuk memahami perkembangan lingkungan strategis yang sangat dinamis untuk menentukan ancaman dan tantangan yang akan dihadapi, dilanjutkan dengan tingkat kesiapan yang harus dicapai.

Peserta simposium berasal dari kalangan militer Amerika Serikat, perwakilan dari 26 negara regional Asia Pasifik dan pihak industri militer Amerika Serikat. Kegiatan ini dilaksanakan secara tahunan oleh Asosiasi Persatuan Angkatan Darat Amerika Serikat.

Kegiatan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keempat kalinya sejak pertama diadakan pada tahun 2013. Materi yang diberikan sangat menarik karena narasumber dan panelis merupakan para pejabat kunci sesuai bidangnya di Pacific Command maupun bidang khusus lainnya.

PR Athan

Pada hari pertama dibahas situasi Kawasan Asia Pasifik yang saat ini sedang menjadi point of interest beberapa negara dan yang telah menjadi perhatian dunia. Kawasan ini membentang sepanjang 9000 mil dari Maldives hingga California. Asia Pasifik saat ini menjadi tempat tiga negara terbesar ekonomi dunia, empat negara terbesar penduduk terbanyak dunia, enam negara yang masuk dalam sepuluh besar militer terbanyak dunia.    Hal lain yang menarik, sejumlah 22 dari 27 Panglima Angkatan bersenjata di kawasan berasal dari Angkatan Darat.

Kawasan Asia Pasifik menjadi perhatian dunia karena memiliki beberapa flash point yang bisa mengarah ke konflik seperti masalah Tiongkok-Taiwan, Korea Utara, Filipina Selatan dan India-Pakistan.  Hal lain yang menyebabkan wilayah ini menjadi perhatian adalah karena adanya perselisihan teritorial di beberapa tempat, seperti Laut Tiongkok Timur, India-Tiongkok, wilayah Kashmir, Kepulauan Kurile, Karang Liancourt, Laut Tiongkok Selatan dan perbatasan Thailand-Kamboja.

Hari kedua simpoisum membahas cara menghindari konflik dan cara mengatasi konflik melalui peningkatan hubungan guna memahami kepentingan negara kawasan yang dihadapkan pada kepentingan masing-masing negara. Sasaran dari upaya ini adalah terciptanya suatu sistem untuk meningkatkan kapasitas negara dalam menyikapi dan menyiapkan militer guna melakukan kerjasama mengatasi tantangan dan ancaman kawasan secara bersama ataupun mandiri. Prinsip yang digunakan adalah membangun hubungan, tetapi apabila dilakukan pada saat pasca krisis maka hal tersebut sudah sangat terlambat. Kini di kawasan ini telah terjalin hubungan kerjasama 20 negara yang mencakup 70 Subject Matter of Expert Exchanges.

Sebanyak 1423 siswa dari negara-negara Kawasan Asia Pasifik mengikuti pendidikan di Amerika Serikat setiap tahunnya, termasuk sekitar 150 siswa militer Indonesia.

Kemampuan melaksanakan penanggulangan keadaan darurat di tengah ancaman yang sangat kompleks secara cepat dan akurat menjadi tujuan dari operasionalisasi kerjasama kekuatan darat di kawasan. Berbagi kepentingan, tantangan dan kemampuan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kerjasama di Kawasan Asia Pasifik.   Latihan untuk meningkatkan kerja sama terus dilakukan.  Setiap tahun dilaksanakan tiga kali latihan yang dinamakan Pacific Pathway. Indonesia berperan aktif pada Pacific Pathway 16-2. Sasaran latihan tersebut adalah untuk mempertahankan agar kemampuan tetap terjaga pada posisi level tertinggi. Kemampuan ini akan mendorong peningkatkan keamanan dan stabilitas kawasan yang yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masing-masing negara.  (MFS)

Download PDF