| Optimisme Kinerja Perdagangan | ||
Kinerja perdagangan bilateral Indonesia-AS pada tahun 2010 menunjukkan kinerja yang mengembirakan. Peningkatan perdagangan terlihat meningkat tajam pada tahun 2010 dibandingkan tahun 2009. Bahkan dapat kembali menembus angka fisilogis tertinggi total perdagangan selama ini, yakni tahun 2008 sebesar US$ 21.443,00 juta. Hal ini terlihat dari tercapainya angka total perdagangan sebesar US$ 21.390,00 juta pada periode Januari - November tahun 2010.
Namun demikian, pangsa pasar ekspor Indonesia mengalami pergeseran dari ekspor non migas ke ekspor migas, seperti gambar komposisi di bawah ini. Pada periode Januari - November tahun 2010, pangsa ekspor migas mengalami peningkatan 1% menjadi 6%, sedangkan pangsa ekspor non migas mengalami penurunan 1% menjadi 94% bila di bandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sementara berdasarkan nilai ekspor, baik ekspor migas maupun non migas menunjukkan peningkatan yang signifikan. Ekspor non migas mengalami peningkatan sebesar 25% selama periode Januari - November 2010 yang tercatat US$ 14,034 juta bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar US$ 11,252 juta. Bahkan terlihat akan menyamai ekspor non migas tahun 2008. Demikian pula dengan ekspor migas Indonesia ke AS menunjukan peningkatan ekspor yang sangat signifikan, yakni sebesar 81% menjadi US$ 974 juta dari US 538 juta pada periode yang sama tahun 2009.
Pencapaian target ini terlihat dari meningkatnya peran ekspor pertanian, perikanan dan kehutanan Indonesia di pasar AS. Ekspor produk bahan baku dan produk industri olahan dari kehutanan dan pertanian, seperti karet dan produk karet; plywood, veneer; minyak sawit; biji coklat dan olahannya; kopi; teh; lada; kayu manis; ikan baik fillet, beku maupun dikeringkan. Bahkan ekspor produk karet meningkat sangat tajam yakni sebesar 135%. Selain ekspor yang berasal dari sektor minyak, ekspor produk industri seperti, tekstil, mesin listrik, furniture, alas kaki, mesin-mesin, kertas dan produk kertas, dan industri kayu di luar furniture mengalami peningkatan, seperti gambar di bawah ini.
Tantangan Perdagangan Tahun 2011 di AS Semakin protektifnya pasar AS terlihat dari adanya upaya penerapan hambatan tarif dan non tarif. Paling tidak terlihat dari 2 kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan kongres pada tahun 2010 lalu yang terkait dengan tarif bea masuk dan non tarif bea masuk, yakni Undang-Undang US. Manufacturing Enhancement Act of 2010 dan The Foreign Manufacturers Legal Accountability Act. Selain itu, pemerintah Obama juga akan mulai menindaktegas negara yang melakukan transshipment guna menghindari bea masuk AD/CVD. Terjadinya perubahan kebijakan perdagangan luar negeri AS. Partai Republik yang lebih pada pro bisnis akan memberikan warna berbeda, terutama pada perdagangan bilateral US dengan mitra dagang utamanya, seperti Cina dan Korea. Kebijakan pemerintah Amerika pada hubungan perdagangan bilateral dengan Cina akan mendapat tekanan kongres untuk lebih memberikaan akses pasar bagi produk AS. Namun hal ini telah dapat dipenuhi oleh Presiden Obama pada saat kunjungan Presiden Cina ke AS tanggal 19 - 20 Januari 2011. Kunjungan ini memberikan angin segar bagi perekonomian AS karena Cina adalah pasar utama untuk ekspor AS. Kunjungan Presiden Cina menghasilkan beberapa kesepakatan kerjasama seperti pembelian pesawat Boeing 200 senilai $ 19 miliar. Selain itu, pemerintah Cina telah mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan menandatangani 70 kontrak untuk $ 25 miliar dalam ekspor AS dari 12 negara bagian, termasuk sektor mulai dari suku cadang mobil untuk pertanian, mesin untuk bahan kimia. Selain itu, 11 kontrak investasi telah ditandatangani senilai $ 3,24 milyar. Perkiraan nilai kerjasama mencapai lebih dari $ 45 milyar yang akan mendukung penciptaan lapangan pekerjaan bagi 235.000 pekerjaan di AS. Selain itu, kedua negara juga sepakat untuk meningkatkan kerjasama di beberapa bidang seperti teknologi energi bersih dan hijau. Selain itu, diperkirakan konggres akan mendorong untuk diselesaikannya perundingan perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) AS dengan beberapa negara mitra, seperti Korea Selatan. Namun hal ini telah mulai diselesaikan oleh Presiden Obama. Pada tanggal 3 Desember 2010 lalu, Presiden Obama mengumumkan keberhasilan kesepakatan Perdagangan Bebas KORUS FTA. Perjanjian ini merupakan bagian integral dari upaya Presiden untuk meningkatkan peluang bagi bisnis, petani dan pekerja AS melalui peningkatan akses untuk produk dan jasa AS di pasar luar negeri. Penghapusan tarif dalam perjanjian perdagangan bebas KORUS akan meningkatkan ekspor produk AS dari US$ 10 milyar menjadi US$ 11 miliar (US. International Trade Commission) sekaligus menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan bagi masyarakat AS dari hasil ekspor produk AS ke Korea Selatan. Selanjutnya, perjanjian perdagangan bebas KORUS juga akan memberikan peluang bagi perdagangan jasa AS di pasar Korea Selatan sebesar US$ 560 milyar. Pasar jasa Korea yang terbuka bagi perusahaan AS antara lain meliputi sektor jasa pengiriman, engineering, akuntan, pendidikan dan kesehatan. AS juga diperkirakan akan terus menggunakan pengaruhnya untuk memajukan Trans Pacific Partnership (TPP) di kawasan Asia dengan kemungkinan penandatangan TPP yang dijadwalkan tahun 2011 pada saat KTT APEC di Hawai. TPP merupakan salah satu bentuk pakta perdagangan bebas regional yang komprehensif yang terdiri dari 8 (delapan) negara meliputi AS; Selandia Baru; Chili; Singapura; Brunei Darusalam; Australia; Peru; dan Vietnam. Dengan bergabungnya Malaysia dalam TPP, maka sudah 4 (empat) negara ASEAN bergabung dalam TPP. Sementara, berdasarkan informasi dari sumber yang terpercaya, Phillipina dan Thailand telah memperlihatkan ketertarikannya untuk bergabung dalam TPP dalam waktu dekat. Untuk itu, perlu mempertimbangkan kemungkinan bergabungnya Indonesia dalam TPP mengingat pasar AS akan semakin meningkat persaingannya. |
|
|