News

Dubes Lutfi Bicara tentang Dampak Pandemi, Potensi Ekonomi Digital Indonesia dan ASEAN

 

WASHINGTON, D.C., Amerika Serikat: 15/12/2020. Negara-negara di dunia, termasuk di kawasan, perlu meningkatkan upaya bersama dalam menangani dampak ekonomi akibat Pandemi COVID-19.

Hal ini karena krisis ekonomi dewasa ini berbeda sekali dengan krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, sehingga harus ditanggapi melalui penguatan ketahanan dan kerjasama di sektor kesehatan, ekonomi digital dan industri rantai pasok.   
 
Pernyataan ini disampaikan oleh Duta Besar (Dubes) RI untuk AS, Muhammad Lutfi pada acara pertemuan dengan sejumlah kalangan di AS, antara lain pengusaha, konsultan bisnis hingga akademisi, yang digelar oleh lembaga pemikir ternama di Washington, DC, yakni The Asia Foundation.
 
“Pemulihan ekonomi ASEAN akan terbantu dengan adanya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), The ASEAN Comprehensive Recovery Framework, dan akses terhadap vaksin COVID-19,” ujar Dubes Lutfi.

Solidaritas negara-negara produsen vaksin, termasuk AS, dalam memberikan akses vaksin sangat diperlukan agar penanganan Covid-19 di tingkat global tidak parsial. Tidak mungkin penanganan pandemi Covid-19 hanya dilakukan di negara-negara tertentu saja.
 
Dubes Lutfi optimis bahwa di masa Pandemi atau setelahnya, ekonomi digital akan terus mendapatkan momentum yang semakin besar dalam pembangunan ekonomi di Indonesia, kawasan dan dunia.

“Pertumbuhan sektor ekonomi digital di Indonesia telah mencapai di atas 40 persen per tahun”, tukasnya.
 
AS diharapkan semakin menggarap digitalisasi sektor kesehatan dan pendidikan di Indonesia. Terlebih lagi dengan adanya perbaikan kemudahan berusaha dan berinvestasi yang ditawarkan Omnibus Law.

“Investasi di Indonesia pada sektor digital, akan menjadi pintu masuk untuk membuka akses yang lebih besar lagi ke pasar ekonomi digital ASEAN yang saat ini bernilai lebih dari US$ 100 milyar”, jelas Dubes Lutfi yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Kepala BKPM ini.
 
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah pihak yang hadir menyambut positif berbagai perbaikan regulasi di Indonesia, khususnya terkait penerbitan Omnibus Law dan perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).  
 
Selain dengan kalangan pejabat Pemerintah dan Kongres AS, diplomasi pro-aktif Dubes Lutfi dalam mempromosikan potensi investasi Indonesia di AS maupun kerjasama bilateral RI-AS di berbagai bidang dalam tiga bulan terakhir ini, juga menyasar kalangan pengusaha, lembaga pemikir hingga akademisi AS.

 
—000—